Jumat, 18 Maret 2011

Belajar Dari Seorang Tokoh : Sir Edmund Hillary

Hari ini saya menyempatkan membaca artikel-artikel yang iseng saya download dari om google. yaitu sebuah cerita dari Sir Edmund Hillary.

Siapa sih "Sir Edmund Hillary"?
           Sir Edmund Hillary adalah seorang petualang berkebangsaan inggris yang mencapai puncak Gunung Everest, himalaya untuk pertama kalinya sebagai orang non-himalayan pada tahun 1953. Sebagai orang pertama, Sir Edmund Hillary tentu saja menjadi seorang panutan untuk menaklukkan gunung tertinggi dunia tersebut.  
           Ia menjadi orang yang terkenal karena bisa menjadi orang pertama yang menaklukkan gunung setinggi 8.850 meter dpl. Pada suatu kesempatan, seorang wartawan bertanya kepada orang yang terlahir 20 juli 1919 di Auckland - Selandia Baru itu,

R         : "Bagaimana perjalanan anda dalam menaklukkan gunung tertinggi dunia itu?"
SE       : "Menarik sekali, penuh tantangan sekaligus pemandangan yang sangat indah."
R         : “Setahu saya anda sudah melakukan banyak penjelajahan di berbagai belahan dunia. Apa bahaya yang paling besar yang anda takutiketika melakukan kegiatan seperti ini? Hewan buas? Berbisa? Ataukah badai?”
SE       :”bahaya yang paling mengancam? Saya rasa saya paling takut pada butiran pasir.”
R         :”butiran pasir?”
SE       :“ya,benar. Butiran pasir yang kecil bisa menyusup kedalam sela-sela kuku. Ketika dingin mendera, daging kita bisa sangat lunak. Saat itulah butiran pasir menggesek-geseknya dan menimbulkan infeksi. Dingin juga mengurangi kemampuan indera peraba tubuh. Jadi Anda tidak tahu ada sesuatu yang terjadi pada tubuh Anda sampai salah satu jari Anda tiba-tiba menghitam dan tidak bisa digerakkan lagi.”

           Melalui cerita dari seorang tokoh luar biasa tersebut dapat kita renungkan bahwa terkadang memang bahaya terbesar yang kita alami justru datang dari hal-hal kecil yang kita anggap enteng.
           Jangan anggap remeh sesuatu yang kecil, apalagi itu sebuah masalah. Sikap kita dalam melihat masalah dan menanggapinya merupakan sebuah pilihan, untuk bijak menyelesaikannya ataupun tidak.


Sir Edmund Hillary
 “Manusia tidak dapat memilih dirinya untuk menjadi luar biasa. Mereka memilih untuk melakukan hal-hal luar biasa.”


Kamis, 17 Maret 2011

seseorang itulah A . K . U


Pagi buta telah datang, hembusan angin dingin menerpa tubuh ini. Kesunyian langit, menemani tubuh ini yang terjaga. Aku melihat luasnya langit, terdapat hamparan ladang bintang yang masih menyinari gelapnya hari.
Tidak terasa, air mata ini mengalir. Aku seperti merindukan sesuatu, tetapi aku tak mengerti. Aku tak tahu, apa yang terjadi?
Tubuhku mulai menggigil, diterpa dinginnya angin yang berhembus. Aku tetap terjaga, tetap membuka kedua buah mata ini yang terus memperhatikan indahnya sinar dilangit.
Tubuh ini tetap merasakan dingin, bahkan dingin ini sungguh menusuk kulit. Rasa sakit mulai timbul, tetapi, aku masih bertanya-tanya kenapa aku masih bertahan disini? Aku masih tidak mengerti.
Kulihat jam tangan yang menempel di tanganku ini, melihat waktu yang terus berputar tanpa henti. Kembali sebuah pertanyaan datang dari diriku, apa yang kulakukan saat ini? Aku tetap tak mengerti.
Kubuka dompet yang tersimpan dalam kantong celana jeans ku, aku mengambil sebuah kertas yang entah berapa lama ini kusimpan. Aku tak mengerti, kenapa aku menyimpan kertas tersebut? Apakah kertas itu sesuatu yang penting untuk diriku? Aku masih belum mengerti.
Tolong, aku merasakan sakit, sakit yang luar biasa. Apakah karena udara dingin yang menusuk kulit ini, ataukah karena hal lain, aku tak mengerti. Apa yang terjadi dengan diriku?
Aku menemukan sebuah foto di dompetku, aku memperhatikan dengan seksama. Aku bertanya-tanya, ia siapa? Apakah aku mengenalnya? Pertanyaan demi pertanyaan terus menerus datang pada diriku, dan aku masih belum bisa menjawabnya.
Rasa sakit yang ini masih belum hilang, aku sudah tidak merasakan hembusan angin.
Tiba-tiba aku merindukan seseorang saat sakit ini masih kurasakan. Seseorang yang bisa menemaniku saat sakit ini datang. Seseorang yang bisa menerimaku apa adanya. Mengapa aku merindukan ia? Ia siapa?
Aku melihat kertas yang masih kupegang dengan tanganku ini, aku memperhatikan dengan penuh rasa penasaran, apakah aku akan mendapatkan sebuah jawaban? Ternyata, yang kupegang hanyalah sebuah kertas kosong belaka. Aku tertegun bingung.
Aku melihat sebuah foto yang berada dalam dompetku, aku bertanya-tanya, foto siapakah gerangan yang berada dalam dompetku ini? Aku bingung, ternyata itu hanyalah sebuah foto diriku. Kenapa aku tak menyadarinya?
Aku tersadar, ternyata aku melupakan diriku sendiri, melupakan kisah-kisah yang hidupku ini yang telah kujalani. Kenapa aku baru tersadar disaat seperti ini.
Aku adalah seorang yang menikmati hidup ini, aku tersadar ini bukanlah rasa sakit, dan aku teringat inilah aku…